Ini Perjalanan Mario Iroth Saat Touring ke Indonesia Timur

Published On August 30, 2019 | By Proman Energenesis | #Promanhood, Adventure

Butuh waktu sekitar lima jam untuk menyeberangi selat Lombok. Perjalanan dari Pulau Dewata menuju Pulau 1001 Masjid dengan menggunakan kapal ferry tersebut dipenuhi dengan ombak yang cukup besar. Namun, semuanya tetap aman dan terkendali. 

Sesampainya di Lombok, saya mampir sebentar di Kota Mataram untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju area Senggigi. Di sinilah jalanan mulai menanjak sampai saya pun bisa melihat megahnya Gunung Rinjani. 

Lalu, jalanan mulus dan berkelok membawa saya hingga Sembalun dan di sanalah saya kunjungi Bukit Selong untuk bisa melihat pemandangan gunung dan petakan kebun yang hijau. 

Hari mulai senja, saya pun melanjutkan perjalanan ke arah timur untuk menyeberang dari Khayangan menuju Poto Tano, Sumbawa. Sebelum matahari tenggelam, saya sudah berada di Sumbawa Besar dan memutuskan untuk beristirahat di sana. 

Hari berikutnya, saya melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga wilayah Sape. Dari sana, saya menumpangi kapal ferry menuju Labuan Bajo. Ini menjadi kapal ferry keenam yang saya naiki; mulai dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Penida, kembali ke Bali, Lombok, Sumbawa, sampai menuju Flores yang tak kalah indahnya dengan pulau lain yang dimiliki Indonesia.

Petualangan di Flores dimulai dari arah barat, yaitu Labuan Bajo. Dari situ, saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai. Untuk menuju ke sini, saya harus trekking selama dua jam dari desa terakhir, yaitu desa Denge.

Melewati hutan dan perbukitan, tibalah saya di Wae Rebo yang terpencil dan berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, namun indah dan menentramkan. 

Setelah menginap satu malam dan berbaur dengan warga lokal di Wae Rebo, perjalanan saya lanjutkan kembali ke arah timur. Melewati jalanan penuh kelokan dan melalui Kota Ruteng yang sejuk, saya lanjutkan perjalanan hingga tiba di Bajawa yang dingin.

Keesokan harinya, saya mengunjungi Kampung Adat Bena yang lokasinya tidak jauh dari Bajawa. Berbeda dengan Wae Rebo yang rumah-rumahnya berbentuk kerucut dan melingkar, rumah tradisional di Bena berbentuk kotak dengan atap trapesium. 

Perjalanan ini sungguh unik dan tidak membosankan. Sayangnya, saya harus segera melanjutkan perjalanan untuk kembali melewati jalan trans Flores yang penuh tikungan. Banyaknya tikungan di wilayah ini membuat Flores dijuluki negeri 1.000 tikungan. 

Sebelum matahari terbenam, tibalah saya di Kota Ende. Lalu, tepat pada 14 Agustus 2019, saya pun berkesempatan untuk ikut memeriahkan Festival Kelimutu yang digelar di area Gunung Kelimutu. Bagi saya, pengalaman ini sungguh unik dan menyenangkan karena di sini saya bisa langsung mengikuti festival tahunan ‘Patika Dua Bapu Ata Mata’ atau ritual memberi makan leluhur yang di dalamnya ada parade musik dan tarian tradisional lengkap dengan pakaian adat warga setempat. 

Tidak lupa, saya juga menikmati keindahan tiga danau berwarna di Gunung Kelimutu ini. Luar biasa indahnya Flores sampai-sampai orang Portugis menamai pulau ini ‘Cabo de Flores’ atau ‘Tanjung Bunga’.

Ini sepenggal kisah perjalanan saya. Masih akan ada perjalanan berikutnya yang bisa saya bagi untuk kalian!

Like this Article? Share it!

About The Author

Pria yang penuh dengan antusiasme, Memiliki energi lebih untuk selalu melakukan petualangan baru yang penuh tantangan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *